Tampilkan postingan dengan label Menggugah Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menggugah Iman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2011

Menjawab Tuduhan Nabi Muhammad Masih Butuh Petunjuk

Menjawab Tuduhan Terhadap Nabi Muhammad saw. Mengenai Hidayah
Oleh : Mawahibur Rahman (Darjah Khamisah)

 
     Saat ini banyak terdapat serangan yang dilancarkan kepada baginda Muhammad saw. Berkenaan dengan banyak segi kehidupan beliau, yang kesemuanya itu bertujuan untuk menjatuhkan martabat beliau saw. Tuduhan yang banyak dilacarkan oleh para orientalis barat ini salah satunya adalah berkenaan dengan bacaan shalat Rasulullah saw. Dan umat Islam pada umumnya pada bagian surat Al-Fatihah, dimana dalam ayat yang ketujuh. Disana beliaus saw berdoa “ Ihdinashshiratal mustaqim” (Tunjukilah kami pada jalan yang lurus). Doa yang dipanjatkan sedikitnya 17 kali dalam sehari ini menurut mereka menandakan bahwa Rasulullah saw. Belum mendapat hidayah, sehingga harus memohon hidayah kepada Allah swt. Melalui tulisan singkat ini, saya berusaha menjawab tuduhan tersebut, semoga bisa dipahami.

1. Jawaban I
Berbeda dengan lautan dunia yang ada batasnya, lautan makrifat Rohani tiada batas dan tepinya, seseorang dalam kehidupan ini bisa terus menerus meningkatkan kerohaniannya sesuai usahanya. (Lihat 4 derajat rohani dalam QS. An-Nisa : 70, dalam hal ini derajat nabi bukanlah akhir, karena derajat ketinggian seorang nabi itu tiada berbatas) Artinya seseorang yang meminta petunjuk dalam bacaan Shalatnya tidak berarti ia belum mendapat petunjuk, tetapi ia ingin ketinggian rohaninya dari satu shalat ke shalat lainnya terus meningkat. Apalagi Rasulullah saw. Adalah seorang insan Tuhan paling agung, ialah suri tauladan (Lihat QS.)
2. Jawaban II
Perkataan hidayah dalam Al-Qur’an memiliki 4 tingkatan sesuai derajat masing-masing pemohonnya. Rasulullah saw. yang dalam peristiwa Mikraj memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari seorang Malaikat. Tentu petunjuk yang beliau inginkan, bukanlah petunjuk biasa, beliau telah menempati kedudukan tertinggi dalam hidayah. Hidayah dalam hal ini adalah sesuai firman Allah Ta’ala dalam Surah Muhammad : 18 :
“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Dia menambahkan petunjuk kepada mereka, dan Dia memberikan kepada mereka ketakwaan mereka.”
Artinya setelah mendapatkan kedekatan yang begitu dekat dengan Allah swt melebihi semua insan, beliau dalam shalat-shalatnya memohon agar kedekatan itu terus meningkat dari hari kehari.
4 kedudukan ini ibarat orang yang ingin pergi ke Bogor dari Parung :
1. Keadaan pertama adalah orang itu baru diberitahu rute perjalanan dari parung ke Bogor
2. Kedudukan kedua ialah ibarat ia mulai berjalan dari tempatnya untuk naik angkot
3. Kedudukan kedua ialah ibarat ia sudah naek angkot dan sampai ke Bogor
4. Kedudukan keempat (kedudukan Rasulullah saw.) adalah bukan hanya sampai bogor, namun ia keliling ke semua tempat di bogor yang ibaratnya tidak terbatas.

3. Jawaban III
Dalam Bibel atau kitab-kitab suci lainnya pun, kita mendapati bahwa seorang utusan-utusan Tuhan seperti Nabi Isa, Musa, Konghucu dll. Mereka selalu memohon petunjuk kepada Allah swt. Karena jika seorang nabi menjalankan misinya bukanlah atas petunjuk Allah swt. maka disanalah ditakutkan kesombongan atau pengaruh buruk syaitan akan masuk. Maka itu Rasulullah saw. Dalam surat An-Najm 1-5 diterangkan bahwa tiap-tiap perkataan dan pekerjaan Rasulullah saw. Selalu mendapat petunjuk Allah swt. Sehingga dalam hal ini adalah sesuatu yang mulia bila seorang Nabi meminta petunjuk kepada Tuhannya.

4. Jawaban IV
Tiap Sunnah Rasulullah saw. Akan menjadi pedoman umat Islam, maka Rasulullah saw. Mencontohkan memohon petunjuk dalam tiap shalatnya, adalah sebuah pedoman Ilahi dan syariat. Sehingga nantinya pengikut beliau yang membaca Al-Fatihan dalam shalat-shalatnnya selalu diberi petunjuk dalam kebenaran. Contohnya sekarang orang-orang yang belum menerima Imam Zamannya, semoga dengan bersungguh-sungguh membaca doa ini dalam tiap shalatnya, Allah swt. memberi petunjuk kepada mereka.
5. Jawaban V
Jika kita melihat alam semesta dan sejarahnya. Maka kita akan mengetahui bahwa bumi dan manusia dari masa ke masa mengalami perkembangan. Begitupula dengan kerohanian Rasululah saw. Dari hari ke hari terus meningkat, dan ini bisa terlihat dari amal saleh beliau yang amat cemerlang. Hanya orang yang mendapat petunjuk yang bisa memberi petunjuk kepada orang lain. Jika memang Rasulullah saw. Belum mendapat petunjuk, tidak mungkin beliau bisa mengubah kaum jahiliyah Arab yang tuna agama dan tuna ilmu menjadikan bangsa besar yang bertuhan dan maju dengan segala kejayaan di segala bidang.

Rabu, 31 Maret 2010

Kisah Para Sahabat 2

Tiga Panglima Islam
Untuk mengadakan perbincangan atas disyahidkannya lima belas wakil Islam di perbatasan Syiria, Rasululah saw. mengirimkan Al-Harts, namun Al-Harts bukannya diperlakukan dengan baik, kematianlah yang akhirnya menghampirinya. Rasulullah saw. Mendapat kabar tentang pembunuhan itu. Untuk mengadakan pembalasan terhadap pembunuhan itu, dan pembunuhan-pembunuhan lainnya sebelum itu, beliau menyusun kekuatan yang terdiri atas tiga ribu prajurit dan dikirimkan ke Siria di bawah pimpinan Zaid bin Haritsa, bekas budak Rasulullah saw. yang telah dimerdekakan. Rasulullah saw. menunjuk Jafar ibn Abu Thalib sebagai pengganti Zaid, andai kata Zaid gugur, dan Abdullah bin Rawaha, jika Jafar juga gugur. Jika Abdullah' bin Rawaha juga gugur, maka kaum Muslimin harus memilih sendiri panglima mereka. Seorang Yahudi yang mendengar putusan itu berkata, “Wahai Abul Qasim, jika anda Nabi yang benar, ketiga-tiga perwira yang anda tunjuk itu pasti akan mati, sebab, Tuhan menyempurnakan kata-kata seorang Nabi.” Sambil menghadap kepada Zaid ia berkata, “Percayalah kepada kataku, jika Muhammad benar, kamu tidak akan kembali hidup-hidup.”
Zaid, seorang mukmin sejati, menjawab, “Aku boleh pulang kembali hidup atau tidak, tetapi Muhammad adalah benar Rasul Allah” (Halbiyya, jilid 3, hlm. 75).
Keesokan harinya, lasykar Muslim bertolak menempuh perjalanan yang jauh. Rasulullah saw. dan para Sahabat mengantarkannya sampai ke suatu tempat. Suatu gerakan militer yang besar lagi penting dan sebelumnya tak pernah diberangkatkan tanpa Rasulullah saw. sendiri sebagai panglima. Tatkala Rasulullah saw. berjalan untuk mengantar iringan ekspedisi itu beliau memberi nasihat dan perintah. Sesudah memberi petunjuk ini, Rasulullah saw. kembali dan lasykar Muslim berderap maju.
Lasykar itu adalah lasykar pertama yang diberangkatkan untuk bertempur dengan kaum Kristen. Ketika lasykar kaum Muslimin itu tiba di perbatasan Siria, mereka mendapat kabar bahwa Kaisar musuh telah menduduki medan pertempuran dengan seratus ribu orang dari prajuritnya sendiri dan seratus ribu dari suku-suku Kristen di Arabia. Dihadapkan kepada musuh yang begitu besar, kaum Muslim hampir saja berhenti di tengah perjalanan dan melaporkannya kepada Rasulullah saw. di Medinah. Barangkali beliau dapat mengirimkan bala bantuan dan perintah-perintah baru.
Ketika para pemimpin pasukan bermusyawarah, Abdullah bin Rawaha bangkit dan dengan semangat menyala-nyala berkata, “Saudara-saudaraku, saudara-saudara meninggalkan rumah saudara-saudara dengan tujuan mati syahid di jalan Allah, dan sekarang ketika kesyahidan sudah di ambang pintu, saudara-saudara nampak menjadi ragu-ragu. Kita sebegitu jauh tidak pernah bertempur karena lebih unggul daripada musuh dalam jumlah dan persenjataan. Pertolongan utama kita adalah keimanan kita. Jika musuh jauh mengungguli kita dalam jumlah dan perlengkapan, apa salahnya? Salah satu dari dua ganjaran pasti kita peroleh. Kita menang atau mati syahid di jalan Allah “.
Lasykar itu mendengar uraian Rawaha dan amat terkesan. Ia benar, kata mereka serempak. Pasukan itu bergerak maju lagi. Saat mereka bergerak, mereka lihat lasykar Roma bergerak juga ke arah mereka. Ketika di Mu’ta, kaum Muslimin mengambil kedudukan dan pertempuran mulai berkobar. Tak lama kemudian Zaid, panglima Muslim, gugur dan saudara sepupu Rasulullah saw. Jafar ibn Abu Thalib, menyambut panji dan pimpinan perang. Ketika dilihatnya tekanan musuh makin kuat dan kaum Muslimin karena kalah tenaga akhirnya tak dapat bertahan, ia turun dari kudanya lalu memotong kaki kudanya. Perbuatan itu berarti bahwa paling tidak ia tidak akan melarikan diri dan bahwa ia lebih suka mati dari pada melarikan diri. Memotong kaki-kaki binatang tunggangan adalah kebiasaan orang-orang Arab untuk mencegah binatang-binatang melarikan diri kacau-balau dan panik.
Jafar terpenggal tangan kanannya, tetapi panji perang masih dipegang erat dengan tangan kiri. Tangan kirinya pun terpenggal, namun itu sama sekali tidak membuatnya berhenti dari amanat Rasulullah saw. ia menahan panji itu di antara kedua lengan buntungnya dan ditekankan ke dadanya. Akhirnya, setia pada sumpahnya, ia tewas dalam pertempuran. Abdullah bin Rawaha, sesuai dengan perintah Rasulullah saw. menyambut panji itu dan mengambil alih kepanglimaan. Ia juga gugur. Begitulah kisah ketiga panglima Islam yang menjadi contoh sepanjang masa mengenai keberanian dan ketaatan sejati.

Kisah Para Sahabat 1

Berikut ini adalah kisah-kisah dari para sahabat Rasulullah saw. yang menunjukkan betapa tingginya keimanan dan keteguhan mereka.

Terpotongnya tangan Hadhrat Talha ra.
Saat perang Uhud umat Islam yang pada awalnya menang menjadi terdesak. Rasulullah saw. pun menjadi sasaran gempurna musuh, yang pada saat itu beliau hanya dilindungi beberapa sahabat yang membentuk lingkaran. Lasykar Mekkah menggempur lingkaran itu dengan ganasnya. Satu demi satu orang-orang Islam dalam lingkaran itu rebah karena tebasan-tebasan prajurit-prajurit berpedang Mekkah. Sementara Dari bukit Uhud pemanah-pemanah melepaskan panah-panahnya. Pada saat itu Hadhrat Talha, seorang Muhajir, melihat musuh melepas anak-anak panahnya ke arah wajah Rasulullah saw. Ia merentangkan tangannya dan diangkatnya ke atas, melindungi wajah Rasulullah saw. Panah-panah itu satu demi satu mengenai tangan Hadhrat Talha, tetapi tangannya tidak diturunkan sungguhpun tiap panah menembus tangannya. Akibatnya beliau pun harus kehilangan tangannya dalam keadaan terpotong-potong. Akhirnya Hadhrat Talha kehilangan tangannya dan seumur hidupnya ia menjadi orang buntung. Di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib, ketika keretakan di dalam tubuh Islam mulai tampak, Hadhrat Talha diejek oleh seorang musuh dengan menyebutnya Talha si Buntung. Hadhrat Talha hanya menjawab, “Buntung, memang, tetapi tahukah kamu di mana ia kehilangan tangannya? Di dalam Perang Uhud, saat ia mengangkat tangannya memerisai wajah Rasulullah saw. dari panah-panah musuh.”
Lama sesudah Perang Uhud sahabat-sahabat Hadhrat Talha bertanya kepadanya, “Apakah tanganmu tidak sakit saat jadi sasaran panah-panah itu dan sakitnya tidak menyebabkan engkau memekik?” Talha menjawab, “Sangat pedih dan hampir membuat aku menjerit, tetapi aku tahan. sebab aku tahu bahwa apabila tanganku bergerak sedikit, wajah Rasulullah saw. akan menjadi bulan-bulanan panah musuh.”

Kegigihan Hadhrat Abu Zarr
Abu Zarr dari suku Ghaffar mendengar tentang Rasulullah saw. dan pergi ke Mekkah guna penyelidikan. Kaum Mekkah mencoba menghalang-halanginya dengan mengatakan bahwa mereka mengenal betul Muhammad dan bahwa gerakannya itu hanya bertujuan untuk kepentingan sendiri. Abu Zarr tidak terpengaruh, ia menjumpai Rasulullah saw. Dan setelah mendengar amanat Islam, ia langsung bai’at dan masuk Islam.
Abu Zarr memohon diperbolehkan merahasiakan imannya terhadap sukunya. Rasulullah saw. Menjawab bahwa ia boleh berbuat demikian beberapa hari. Tetapi, ketika ia berjalan di lorong Mekkah, didengarnya serombongan pemimpin-pemimpin Mekkah memaki dan mencemoohkan Rasulullah saw. dan melancarkan serangan-serangan kotor. Ia tak dapat menguasai dirinya untuk merahasiakan iman dan segera menyatakan, “Aku menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan tidak ada yang patut disembah selain Allah, dan Muhammad adalah abdi-Nya dan Rasul-Nya”.
Teriakan di tengah khalayak orang-orang kufar seolah-olah merupakan tantangan. Mereka bangkit dalam marah dan ia dipukuli sehingga jatuh pingsan. Paman Rasulullah, Abbas, yang pada waktu itu belum bai’at ada di situ dan berusaha secara lisan membela orang yang jadi bulan-bulanan itu. “Makanan kafilahmu adalah berasal dari suku Abu Zarr,” katanya, “ Jika mereka marah atas perlakuanmu terhadap dia, kaumnya dapat membuat kamu mati kelaparan”. Akhirnya ditinggalkan Abu Zarr. Hari berikutnya Abu Zarr tinggal di rumah, tetapi hari esoknya, selagi ia menuju kumpulan itu dan mendengar lagi mereka memaki dan mengutuk Rasulullah saw. seperti yang sudah-sudah. Ia pergi ke Ka'bah dan menjumpai orang-orang di sana berbuat serupa. Ia tak dapat menguasai dirinya, lalu berdiri dan mengucapkan peryataan imannya. Sekali lagi ia diperlakukan dengan aniaya lagi ganas. Hal itu masih terjadi hingga ketiga kalinya dan kemudian Abu Zarr pulang ke sukunya.